Hening di Ujung Senja
Di sebuah rumah mewah, suara kucing, suasana sore yang sejuk dan menebak-nebak. Lampion dan tanaman menjadi pelengkap memperindah mata. Salah satu penghuninya yaitu aku yang sudah berumur melebihi dari dewasa. Aku sedang membersihakan beberapa pernak-pernik di ruang tamu. Tiba-tiba ada dua orang yang muncul di muka pintu, ketika aku akan membuang pernak-pernik yang tak terpakai. Aku mempersilahkannya masuk dan duduk. Tiba-tiba mereka menceritakan langsung sesuatu kepada aku.
Tunggul: (Masuk ke dalam rumah dengan perasaan senang, semangat dan penuh harap) Kita teman bermain waktu kecil. Di bawah pohon bambu. Tidak jauh dari tepi Danau Toba.
Aku: (Ragu-ragu, dengan
mengkerutkan dahi).
Masih di suasana yang sejuk begitu pula menebak-nebak. Di ruang tamu, mereka saling memandang, saling memberikan senyuman. Laki-laki itu mengingnginkan aku ingat, dan aku berusaha mengingatnya. Waktu mengenang pada mereka berdua tentang kebersamaan yaitu semenjak enam puluh tahun yang lalu, ketika mereka masih kecil. Tunggul : (Meyakinkan Aku dengan menggerak-gerakan tangan seolah-olah menjadi pencerita yang dipercayai) Ketika sekolah SD kau pernah pulang ke kampung dan kita bersama-sama satu kelas pula.
Masih di suasana yang sejuk begitu pula menebak-nebak. Di ruang tamu, mereka saling memandang, saling memberikan senyuman. Laki-laki itu mengingnginkan aku ingat, dan aku berusaha mengingatnya. Waktu mengenang pada mereka berdua tentang kebersamaan yaitu semenjak enam puluh tahun yang lalu, ketika mereka masih kecil. Tunggul : (Meyakinkan Aku dengan menggerak-gerakan tangan seolah-olah menjadi pencerita yang dipercayai) Ketika sekolah SD kau pernah pulang ke kampung dan kita bersama-sama satu kelas pula.
Aku:
(Aku tersenyum sambil mengangguk-angguk dan membuat minuman ke belakang).
Ruang tamu luas itu terdapat sofa
dan meja untuk menaruh minuman yang disuguhkan aku terhadap ke dua tamu itu. Karena
belum tahu juga, maka laki-laki itu sedikit kecewa.
Aku: (Mempersilahkan minuman
kepada mereka) Silahkan.
Tanggul&anak
bungsunya : (Mengulurkan tangan
untuk mengambil minuman. Setelah itu Tunggul meletakan minuman dan Tunggul mengucapkan sesuatu) Wajahmu masih seperti yang dulu. Tidakkah engkau
peduli kampung halamanmu?
Aku : (Menggaruk-garuk kepala,
merasa risih).
Sejuk masih menemani
mereka mengobrol, ditambah udara dari AC
membuat obrolan mereka semakin jauh. Sekelilingnya ada korden biru bunga-bunga
ditambah vas bunga yang indah pas seperti ada kedamaian di ruangan itu. Awal
yang menegangkan kemudian dicairkan oleh aku yang mengingat waktu kecil ingin
membangun kembali rumah di atas tanah adat yang tidak pernah dijual.
Aku : (
Menyilangkan kaki dan ceria) Rumah kita dahulu berhadap-hadapan, ya?
Tunggul: (Mengangguk dan rasa kecewanya hilang).
Aku: (Mengangkat tangan dan memainkan jarinya seperti mendapat ide atau jawaban yang sangat susah) Kalau
begitu, kau si Tunggul?
Tunggul: (Penuh semangat dengan mata
yang bersinar-sinar yaitu terharu) Iya, benar sekali.
Dingin semakin terasa oleh mereka.
Mereka berdua saling memandang dan memberikan senyuman. Mengingat-ingat masa
silam yang pernah bersama. Si Tunggul nampak begitu senang teman lamanya sudah
mengingatnya. Bibirnya tak mau diam, Tunggul ingin banyak bercerita.
Tunggul: (Memegang tangan Aku, dan
mengatakan sesuatu dengan penuh keyakinan) Jangan biarkan orang lain menduduki
tanahmu. Suatu saat nanti, keturunanmu akan bertanya-tanya tentang negeri
leluhur mereka. Kita sudah sama tua. Mungkin tidak lama lagi kita akan berlalu.
Kalau kau perlu bantuan, aku akan
menolongmu.
Aku: (Menatap Tunggul penuh rasa terharu dan bahagia) Akan kupikirkan.
Nanti kubicarakan dengan adik dan kakak.
Tunggul: (Menganggukan kepala, dan
berpamitan pulang) Saya dan anak saya pulang dulu. kapan-kapan, aku kemari lagi.
Aku: (Tersenyum mendengar
Tunggul akan kemari lagi, dan mengantarkanya ke depan teras atas kepulangan
mereka). Hati-hati.
Tunggul: (Mengangguk)
Perbincangan penuh makna itu berlalu
ditelan waktu. Seorang teman menjadi benak dipemikiranku, karena masih saling
peduli dan pernah berjumpa lalu. Kenangan yang dulu pernah dijalani bersama
akan menjadi cerita dari sebuah kehidupan. Akan diceritakan kepada anak dan
cucu nanti. Petang telah menyambut Aku untuk memulai memperbincangkan mengenai
rumah adat kepada kaka-adikku. Namun, kesibukan dengan urusan sendiri-sendiri
itulah membuat kami tak sehangat seperti keluarga karena kesibukan
masing-masing. Aku telah termenung, memutuskan sesutu hal yang pernah tertunda
sebelumnya. Sebuah kampung halaman untuk melangkahkan kaki di sana, melihat
dari sekian lamanya tak terlihat jelas oleh mata. Di sebuah ruangan sempit dua
kali dua meter Aku berjumpa sosok teman yang menjadi cerita hidupku.
Aku: (Mengeluarkan
setetes air mata, kemudian mengusapnya)
Tunggul: (Menggunakan slang oksigen
dihidungnya, dengan matanya yang berkaca-kaca sambil mulutnya berkata pelan)
Kudengar kau datang. Beginilah keadaanku. Sudah berbulan-bulan.
Kondisi Tunggul sangat lemah,
membuat Aku tak tega membicirakan mengenai tanah itu. Aku berfikir sejenak dan
memutuskan untuk diserahkan pada keluarga dekat. Waktu lagi yang menjadi kabar pait bagiku.
Waktu itu telah jelas ditelinga ketika seorang kerabat dekat ketika berjumpa di
Jakarta. Kabar duka membuat aku berdiri kaku, hingga tak tertahan meneteslah
air mata. Teman karib waktu kecil kini telah tiada. Tunggul meninggal di usia
yang ke-67.
Aku: (Dari berdiri kemudian
duduk, dan meneteskan air mata sambil memegang tangan kursi) Oh, Tuhan. Kami
lahir dalam tahun yang sama. Sebelum segala sesuatu rencana terwujud, usia
telah ditelan waktu! Giliranku
Ada sisi ruang kebahagiaan
mengisi ruang kesediahan semenjak Tunggul meninggal. Sisi ruang itu terhempas
oleh waktu lagi, ketika selang kebahagiaan terganti kabar duka.
Aku: (Duduk sambil merenungi setiap kejadian yang didengar kabar duka). Rendi juga teman Aku sama seperti Tunggul. Mimpiku selalu dihampiri oleh sosok Rendi yang mengadu nasib dengan mengerjakan istrinya ke luar negeri yaitu Amerika untuk bekerja, sebelumnya juga ia menyusul kesana. Bagimana kabarnya?
Lewat Bali, Hawaii, Rendi sampai ke
California. Setahun berada di sana, nasib kurang beruntung menimpa Rendi ketika
istrinya meninggal sakit kanker payudara. Sepi merundung hidupnya, di tengah
keramaian kota dan keheningan pagi dan senja, membuatnya resah.
Aku: (Menangis mendengar kabar
temanya kehilangan istri) Aku akan menemui
Rendi, sebagai tanda bela sungkawa.
Dari kesunyian hati itu, Rendi
cuti ke tanah air, untuk mencari teman hidup pada usia senja. Tetapi, dalam
kesunyian di tanah air, ia mengembara seorang diri, dengan bus dan kereta api.
Aku: (Mengangkat telephone dan merasa begitu kaget. Kemudian meneteskan air mata, Apa! Rendi tekulai di ruang hajat? Sakit asma? Jenazah dibawa ke rumah anaknya? (Telephonnya terjatuh ke lantai) Astaga, tak kusangka kini ia sudah tak bernyawa. Barangkali hidup tidak mengenal kompromi. Kerja apa pun harus dilakukan dengan patuh. Tetapi usia yang di atas enam puluhan itu cukup melelahkan untuk bertahan hidup. Tiada kawan untuk membantu. Semua bertahan hidup harus berkejaran dengan waktu. (Mengusap air mata)
Aku nampak begitu sedih dengan
kabar yang terjadi beberapa waktu dekat-dekat ini. Mungkin saja karena
faktor umur yang menjadi faktor
utama. Dari agen koran subuh, sampai
rumah jompo dari siang sampai senja, lalu pulang ke apartemen, merebahkan diri
seorang diri, sampai waktu mengantar subuh dan mengulangi ritual siklus kehidupan.
Beberapa waktu kemudian, aku mendapat SMS. Aku berhenti di pinggir jalan ramai
dan mencoba membaca berita yang masuk.
Aku: (Mengambil telephone dari
sakunya, kemudian mengangkat panggilan
masuk) Apa! Lusiana meninggal dunia? (Matanya berkaca-kaca, air matanya
hampir menetes dan mengalir ke pipi).
Petang mengiringi lelah aku memuncak dengan kabar duka lagi. Waktu lah
yang lagi-lagi membuatku termenung, meratapi, dan membuat bibi ini kaku.
Pohon-pohon menjadi melihatku begitu tau rasa dijiwaku.
Aku: (Duduk dideket pohon yaitu
di kursi dengan badan yang lemas dan muka yang letih) kawan-kawanku telah
pergi. Tunggul tutup usia usia 67. Dan Lusiana ke-61. Begitpun dengan Rendi tak
beda jauh usianya. Memang benar waktu adalah rahasia. Entah rahasia yang
mengharukan maupun menyedihkan. (Meninggalkan pohon dan kursi yang didudukinya
untuk pulang).
Gelap menjadikan burung gagak tak
terlihat di atas pohon rambutan. Hanya terdengar suaranya yang menjadi
keyakinan sebagian orang bahwa akan ada kabar duka. Sosok Aku begitu memaknai
semua ini. Lusiana yang merupakan temanya ialah seorang seorang sekretaris
eksekutif yang hidup mati demi kariernya. Ia lupa kapan ia pernah disentuh rasa
cinta, sampai cinta itu pun ditampiknya. Menjelang usia renta, ia menyaksikan
ayah dan ibunya satu demi satu meninggalkan hidup yang fana. Juga abangnya,
pergi mendadak entah menderita penyakit apa. Karier tidak meninggalkan bekas.
Tidak ada ahli waris. Kawan-kawan meratapinya, dan melepasnya dalam kesunyian
hati. Hening di atas nisannya. Burung pun enggan hinggap dekat pohon yang
menaungi makamnya.
Sebuah kesibukan terkadang melupakan seseorang untuk waktu yang berharga
sebelum menyesali yang menimpa kelak. Begitupun dengan Aku yang bingung
menggunakan waktu cuti untuk apa. Akhirnya setelah beberapa proses aku dapat
belibur dengan keluarga.
Aku: (Duduk ditepi laut Hindia,
menyasikan ombak memukul-memukul pantai, tiba-tiba Handphone istrinya bunyi,
tanda ada satu pesan, kemudian akku membacanya) Tan, Ibu Maria baru saja
meninggal dunia. Kasihan dia. Di dalam Kitab Sucinya banyak mata uang asing. (Menatap langit)
Inilalilahi wainalilahi rojiun. Ibu Maria telah mnyusul suaminya yang ke-72.
(Masih menatap langit sambil menyangga dagu).
Sebelum senja turun ke tepi laut, matahari memerah dan bundar, cahaya
keindahan Tuhan, sangat mengesankan ratusan orang dari berbagai bangsa terpaku
di atas batu-batu. Begitupun dengan sosok Aku.
Aku: (Mengeluarkan handphone
dari sakunya, kemudian mengangkat)
Kaka sulung: Dik, usia ku telah 78, walaupun aku tahu
sakitnya tidak kunjung sembuh. Tetaplah tabah dik. Kamu dan anak-anakmu, semua
anak cucuku dan buyutku, supaya mereka tetap sehat.
Aku: (Matanya berkaca-kaca, antara
senang dan sedih) Gelap lagi menjadi background sosok Aku, karena itu merupakan
percakapan melalui telephone dengan kaka sulungnya yang terakhir.
Aku: (Menangis dan meratapi
kepergian orang-orang yang selama ini berharga baginya). Oiya usiaku hampir 70
meski kurang beberapa bulan. Jejak mana yang sudah kutoreh dalam hidup ini? Dan
jejak apakah yang bermakna sebelum tiba giliranku? (Terpekur, mengeluarkan
banyak air mata dan menyiasati semua kejadian ini). Aku akan mempersiapkan
diri, agar pantas menghadap-Nya.
Masih sejuk, sangat nyaman meresapi setiap kejadian. Waktu yang akan membuka rahasia-rahasia yang tidak diketahui manusia. Adakalanya sehat sangat baik mengingat sebuah lubang. Lubang tempat akhir dari kehidupan di dunia. Merenungi, berbagi keluh kesah, mencari pencerahan hidup kemudian memperbaikinya itulah salah satu tugas manusia. Kelak, waktu lagi yang akan memberikan kabar kepada saudara, teman, bahwa raga dan jiwa ini telah tiada.
Naskah Drama di adopsi dari cerpen Hening di Ujung Senja karya wilson wadeak.
Masih sejuk, sangat nyaman meresapi setiap kejadian. Waktu yang akan membuka rahasia-rahasia yang tidak diketahui manusia. Adakalanya sehat sangat baik mengingat sebuah lubang. Lubang tempat akhir dari kehidupan di dunia. Merenungi, berbagi keluh kesah, mencari pencerahan hidup kemudian memperbaikinya itulah salah satu tugas manusia. Kelak, waktu lagi yang akan memberikan kabar kepada saudara, teman, bahwa raga dan jiwa ini telah tiada.
Naskah Drama di adopsi dari cerpen Hening di Ujung Senja karya wilson wadeak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar