KALIMAT EFEKTIF
A. Tujuan Perkuliahan
1.
Mahasiswa dapat
memahami pengertian kalimat efektif
2.
Mahasiswa dapat menggunakan
kalimat efektif
3.
Mahasiswa dapat menulis
kalimat efektif dalam tulisan
B. Pengertian Kalimat
Efektif
Kalimat efektif adalah
kalimat yang dapat memberikan kemudahan atau kejelasan informasi kepada pembaca
atau pendengar. Dengan kata lain, kalimat
dikatakan efektif apabila kalimat tersebut mampu secara tepat mewakili gagasan
atau perasaan penyampai informasi dan sanggup memberikan gambaran yang sama
tepatnya kepada pembaca atau pendengar.
Untuk mewujudkan kalimat yang efektif, kalimat harus
mengandung beberapa unsur, antara lain: kesatuan
gagasan dan kesepadanan struktur, kepaduan (koherensi) yang
kompak, adanya penekanan, kesejajaran (keparalelan) bentuk, kehematan kata,
kelogisan, dan kevariasian. Hal itu
sependapat dengan Keraf (2004: 40) yang menyatakan bahwa kalimat efektif harus
mengandung syarat kesatuan gagasan, koherensi yang kompak, penekanan, variasi,
paralelisme, dan penalaran. Sementara itu, Akhadiah (1991:116) mengatakan bahwa ciri kalimat efektif adalah (1) kesepadanan dan kesatuan, (2) kesejajaran
bentuk (paralelisme), (3) penekanan, (4) kehematan dalam mempergunakan kata,
dan (5) kevariasian dalam struktur kalimat.
1. Kesatuan
Gagasan dan Kesepadanan Struktrur
Setiap kalimat
yang baik harus secara jelas memperlihatkan kesatuan gagasan dan mengandung
satu pokok permasalahan. Apabila dalam suatu
kalimat terdapat dua pokok masalah atau lebih, maka kalimat tersebut harus
dipecah menjadi dua kalimat atau lebih supaya menjadi kalimat yang efektif. Sebuah
kesatuan gagasan secara praktis diwakili oleh subjek, predikat,
dan bisa juga ditambah objek. Kesatuan tersebut dapat berbentuk kesatuan
tunggal, kesatuan gabungan, kesatuan pilihan, dan kesatuan yang mengandung
pertentangan.
Contoh :
Penanaman pohon akasia
sebagai upaya penghijauan telah dilaksanakan warga, sebagai tindak
lanjut perda tentang penghijauan.
Pembahasan:
Kalimat tersebut tidak efektif karena terdapat dua
pokok masalah. Supaya efektif, kalimat tersebut harus dipecah menjadi dua
kalimat sebagai berikut.
a.
Penanaman pohon akasia
sebagai upaya penghijauan telah dilaksanakan warga.
b.
Penanaman pohon akasia
sebagai tindak lanjut perda tentang penghijauan.
Kesepadanan
adalah keseimbangan antara pikiran dan struktur bahasa yang dipakai. Kesepadanan
kalimat diperlihatkan oleh kesatuan gagasan yang kompak dan kepaduan pikiran
yang baik. Untuk mewujudkan kesepadanan
struktur, maka kalimat harus memenuhi syarat sebagai berikut.
a.
Kalimat Harus Memiliki Subjek
dan Predikat yang Jelas
Subjek
adalah bagian kalimat yang menunjukkan pelaku, sosok (benda), hal, atau masalah
yang menjadi pangkal pembicaraan. Subjek diisi oleh jenis kata benda, frasa
verbal, dan klausa. Untuk mengenali subjek
dapat dilakukan dengan cara mengajukan pertanyaan memakai kata tanya siapa (yang)…, apa (yang)… kepada predikat,
apabila jawaban logis maka yakinlah itu subjek.
Predikat
adalah tindakan atau perbuatan yang dilakukan oleh subjek, sifat, situasi,
status, ciri atau jati diri subjek. Predikat berupa kata, frasa, sebagian besar
berkelas verba/adjektiva, tetapi juga nomina atau frasa nominal.
Ketidakjelasan
subjek atau predikat suatu kalimat membuat kalimat itu tidak efektif. Kejelasan
subjek dan predikat suatu kalimat dapat dilakukan dengan cara menghindarkan
pemakaian kata depan di, dalam, bagi
untuk, pada, sebagai, tentang, mengenai, menurut, dan sebagainya di
depan subjek.
Contoh :
1)
Bagi semua mahasiswa yang memakai kaos
oblong dilarang mengikuti perkuliahan.
2)
Belajar
itu untuk memperoleh ilmu.
Pembahasan:
Kalimat pertama tidak efektif karena adanya kata bagi yang menyebabkan ketidakjelasan
subjek. Oleh karena itu, kata bagi
seharusnya dihilangkan sehingga bentuk efektifnya adalah Semua mahasiswa yang memakai kaos oblong
dilarang mengikuti perkuliahan.
Kalimat
kedua tidak efektif karena predikatnya tidak ada. Supaya efektif harus diubah
sebagai berikut Belajar itu bertujuan
untuk memperoleh ilmu.
b.
Kalimat
Tidak Mengandung Subjek Ganda
Subjek
yang ganda dalam kalimat menimbulkan penafsiran yang salah bagi pembaca.
Contoh :
Pertanyaan
itu saya kurang jelas.
Pembahasan:
Kalimat
tersebut mempunyai subjek ganda, yaitu pertanyaan itu dan saya. Kalimat tersebut
dapat diperbaiki dengan cara menambah kata bagi diantara pertanyaan
itu dan saya sehingga kalimat yang
efektif sebagai berikut.
1) Pertanyaan
itu bagi saya kurang jelas.
2) Saya kurang
jelas akan pertanyaan itu.
c.
Kalimat
Penghubung Intrakalimat Tidak Dipakai pada Kalimat Tunggal
Contoh :
Kami
datang agak terlambat. Sehingga kami
tidak dapat mengikuti acara itu.
Pembahasan:
Kalimat tersebut dapat diperbaiki dengan mengubahnya
menjadi kalimat majemuk atau mengganti ungkapan penghubung intrakalimat menjadi
ungkapan penghubung antarkalimat. Kalimat efektif dari pernyataan tersebut
sebagai berikut.
1) Kami datang agak terlambat sehingga tidak dapat
mengikuti acara itu.
2) Kami datang agak
terlambat. Oleh karena itu,
kami tidak dapat mengikuti acara itu.
2. Kepaduan
(Koherensi) yang Baik dan Kompak
Yang dimaksud dengan koherensi atau kepaduan
yang baik dan kompak adalah hubungan timbal balik yang baik dan jelas
antara unsur-unsur (kata atau kelompok kata) yang membentuk kalimat itu. Akan
tetapi, kalimat dapat dirusak oleh berbagai hal berikut.
a.
Penempatan Kata dalam Kalimat
yang Tidak Sesuai dengan Pola Kalimat
Contoh:
Permasalahan itu perlu mendapat perhatian dari
berbagai pihak sehingga pada masa yang akan datang tidak ada yang merasa
dirugikan.
Pembahasan:
Kalimat tersebut merupakan kalimat yang baik, namun akan
menjadi buruk jika susunannya diubah seperti pada contoh berikut.
Berbagai pihak pada masa mendatang tidak merasa
dirugikan dari permasalahan itu sehingga perlu mendapat perhatian.
b.
Kesalahan Penggunaan Kata
Depan, Kata Hubung, dan Sebagainya
Contoh:
Sejak
lahir manusia memiliki jiwa melawan kepada kekejaman alam.
Pembahasan:
Kata
kepada seharusnya dihilangkan seperti
pada kalimat berikut.
Sejak
lahir manusia memiliki jiwa melawan kekejaman alam.
c.
Pemakaian Kata yang Kontradiksi
Pemakaian kata-kata yang mengandung kontradiksi
dapat merusak keefektifan kalimat.
Contoh:
Percaya tidak percaya data yang dikumpulkan
menunjukkan bahwa minat siswa terhadap pembelajaran membaca adalah rendah.
Pembahasan:
Adanya kata percaya tidak percaya menyebabkan kalimat tersebut memiliki makna
yang kontradiksi. Oleh karena itu, kata percaya
tidak percaya harus dihilangkan. Kalimat efeketifnya adalah Data yang dikumpulkan menunjukkan bahwa
minat siswa terhadap pembelajaran membaca adalah rendah.
d.
Kesalahan Menempatkan Keterangan
Aspek (sudah, telah, akan, belum)
pada Kata Kerja Tanggap
Contoh:
Data itu saya
sudah kerjakan sampai selesai.
Pembahasan:
Kalimat tersebut tidak efektif karena saya kerjakan sebagai bentuk tanggap tidak bisa
disisipi keterangan apapun. Jadi, kalimat yang efektif
adalah Data itu sudah
saya kerjakan sampai selesai.
3. Penekanan
Setiap kalimat memiliki sebuah ide pokok. Penekanan
dilakukan untuk memberikan penjelasan berkaitan dengan hal yang dirasa penting.
Penulis dapat melakukan berbagai cara untuk memberikan penekanan pada kalimat efektif. Adapun cara
tersebut diantaranya sebagai berikut.
a.
Mengubah Posisi Kalimat
Sebuah kalimat dapat diubah-ubah strukturnya untuk
mencapai efek yang dipentingkan. Untuk mencapai efek yang dipentingkan, maka
penulis dapat menempatkan sebuah kata yang penting tersebut berada pada awal
kalimat.
Contoh:
Mahasiswa menjawab pertanyaan
dosen penguji.
Pembahasan:
Penekanan tersebut dapat dilakukan dengan cara mengubah
menjadi kalimat pasif, yaitu Pertanyaan dosen penguji dijawab mahasiswa.
b.
Menggunakan Pengulangan
Kata (Repetisi)
Pengulangan kata (repetisi) dalam kalimat kadang
diperlukan untuk memberikan penegasan pada bagian ujaran yang dianggap penting.
Pengulangan kata yang demikian dianggap dapat membuat maksud kalimat menjadi
lebih jelas.
Contoh:
Pembangunan merupakan proses yang rumit dan mempunyai
banyak dimensi, bukan hanya dimensi ekonomi
tetapi juga dimensi politik,
dimensi
sosial, dan dimensi budaya.
Pembahasan:
Berdasarkan kalimat di atas dapat dilihat bahwa kata
dimensi merupakan kata yang diulang berturut-turut. Oleh karena itu, kata
dimensi merupakan kata yang akan ditekankan (dianggap penting) oleh penulis.
c.
Menggunakan Pertentangan
Pertentangan dapat pula
dipergunakan untuk menekankan suatu gagasan.
Contoh:
Anak itu rajin.
Pembahasan:
Kalimat tersebut dapat lebih ditonjolkan bila
ditempatkan dalam suatu posisi pertentangan, misalnya Anak itu rajin, bukan malas.
d.
Menggunakan Partikel Penekanan
Bahasa Indonesia memiliki beberapa partikel yang
berfungsi menonjolkan sebuah kata atau ide dalam sebuah kalimat.
Partike-partikel yang dimaksud adalah: lah, pun, kah, yang dalam tata bahasa disebut
imbuhan.
Contoh:
1) Kami pun ikut dalam kegiatan
itu.
2) Bapaklah yang memberikan
sambutan itu.
4. Kesejajaran (Paralelisme)
Kalimat efektif juga
harus mengandung kesejajaran (paralelisme) antara gagasan yang diungkapkan dan
bentuk bahasa sebagai sarana pengungkapnya.
Jika dilihat dari segi bentuknya, kesejajaran itu dapat menyebabkan keserasian.
Jika dilihat dari segi makna atau gagasan yang diungkapkan, kesejajaran itu
dapat menyebabkan informasi yang diungkapkan menjadi sistematis sehingga mudah
dipahami. Jenis pembentukan paralelisme sebagai
berikut.
a.
Kesejajaran Bentuk
Bentuk kalimat yang tidak tersusun secara sejajar
dapat mengakibatkan kalimat itu tidak serasi.
Contoh:
1)
Buku itu telah lama dicari, tetapi Dodi belum menemukannya.
2)
Peneliti sudah
mengambil data, mencatatnya, kemudian dianalisis, dan dibahas.
Pembahasan:
Kalimat di atas tidak sejajar karena menggunakan
bentuk kata kerja pasif (dicari) yang dikontraskan dengan bentuk aktif
(menemukan). Agar sejajar, kedua bagian kalimat tersebut harus menggunakan
bentuk pasif semuanya atau bentuk aktif semuanya. Kalimat yang efektif dari
kalimat tersebut sebagai berikut.
1a)
Buku itu telah dicari oleh Dodi,
tetapi belum ditemukannya.
1b)
Dodi telah lama mencari buku itu, tetapi belum menemukannya.
2a)
Peneliti sudah mengambil data,
kemudian mencatatnya, menganalisis,
dan membahasnya.
2b)
Data sudah diambil peneliti, kemudian
dicatatnya, dianalisis, dan dibahasnya.
b.
Kesejajaran Makna
Unsur lain yang harus diperhatikan dalam pemakaian
suatu bahasa adalah segi penalaran atau logika. Kesejajaran makna ini berkaitan
erat dengan penalaran. Penalaran dalam sebuah kalimat merupakan masalah yang
mendasari penataan gagasan. Penalaran sangat berhubungan dengan jalan pikiran.
Jalan pikiran penulis turut menentukan baik tidaknya kalimat yang dibuat, mudah
tidaknya kalimat dipahami sesuai pemikiran penulis.
Contoh :
Masyarakat mengecam keras atas terjadinya pembunuhan
21 warga Palestina yang tewas dan 200 lainnya yang luka-luka.
Pembahasan:
Kalimat tersebut bukan termasuk kalimat efektif,
karena untuk memahaminya, pembaca dituntut berpikir keras. Jika kita cermati
akan terdapat kejanggalan karena tidak mungkin pembunuhan dilakukan terhadap orang yang sudah tewas. Oleh karena itu, seharusnya kalimat tersebut
adalah Masyarakat mengecam keras atas
terjadinya peristiwa yang mengakibatkan 21 warga Palestina tewas dan 200
lainnya luka-luka.
c.
Kesejajaran Bentuk dan
Maknanya
Beberapa gagasan yang bertumpuk dalam satu
pernyataan dapat mengaburkan kejelasan informasi yang diungkapkan.
Contoh :
Penanaman pohon akasia
sebagai upaya penghijauan telah dilaksanakan warga, sebagai tindak lanjut Perda tentang penghijauan.
Kalimat tersebut tidak
efektif karena terlalu sarat dengan informasi.
Agar efektif, kalimat tersebut harus dikembalikan
pada gagasan semula, yang terungkap dalam beberapa kalimat berikut.
1)
Penanaman pohon akasia
sebagai upaya penghijauan telah dilaksanakan warga.
2)
Penanaman ini
melibatkan berbagai elemen masyarakat dari tingkat RT sampai tingkat kalurahan.
3)
Hal ini merupakan
tindak lanjut perda tentang penghijauan.
5. Kehematan
Kehematan dalam kalimat efektif merupakan kehematan
dalam pemakaian kata, frase, atau bentuk lainnya yang dianggap tidak
diperlukan. Kehematan ini menyangkut soal gramatikal dan makna kata. Kehematan
tidak berarti menghilangkan kata, frase yang diperlukan atau yang menambah
kejelasan makna kalimat. Untuk mewujudkan kehematan dalam menyusun kalimat
efektif ada beberapa kriteria yang perlu diperhatikan.
a. Penghematan dapat Dilakukan
dengan Cara Menghilangkan Pengulangan Subjek
Contoh :
Karena Ali terlambat, dia tidak dapat mengikuti perkuliahan.
Pembahasan:
Kalimat tersebut memiliki dua
subjek, yaitu Ali dan dia. Oleh karena itu, kalimat tersebut perlu diperbaiki
sebagai berikut
Karena terlambat, Ali tidak dapat mengikuti
perkuliahan.
b.
Penghematan
dapat Dilakukan dengan Cara Menghindarkan Pemakaian Superordinat pada Hiponimi Kata
Contoh :
1) Ia memakai baju warna merah.
2) Di mana kamu menangkap
burung pipit itu?
Pembahasan:
1a) Kata merah sudah mencakupi kata warna.
2a) Kata pipit sudah mencakupi kata burung.
Oleh karena itu, kalimat tersebut dapat
diubah sebagai berikut.
1b)
Ia memakai baju merah.
2b) Di mana engkau menangkap pipit itu?
c.
Penghematan
dapat Dilakukan dengan Cara Menghindarkan Kesinoniman dalam Satu Kalimat
Contoh :
1)
Silakan naik ke atas ruangan itu!
2)
Baru saja pejabat itu turun ke bawah melalui tangga
ini.
Pembahasan:
1a) Kata naik bersinonim dengan ke atas.
2a) Kata
turun bersinonim dengan ke bawah.
Oleh karena itu, kalimat tersebut dapat
diperbaiki sebagai berikut.
1b) Silakan naik ke
ruangan itu!
2b) Baru saja pejabat
itu turun melalui tangga ini.
d.
Penghematan
dapat Dilakukan dengan Cara Tidak Menjamakkan Kata-kata yang Berbentuk Jamak.
Contoh :
Bentuk Tidak Baku Bentuk Baku
para
tamu-tamu para tamu/banyak tamu
beberapa orang-orang beberapa orang
/ banyak orang
para hadirin hadirin
6. Kelogisan
Yang dimaksud dengan kelogisan ialah ide
kalimat itu dapat diterima oleh akal pikiran manusia dan penulisannya sesuai
dengan ejaan yang berlaku.
Contoh:
1)
Kepada Bapak Camat waktu dan tempat kami
persilakan.
2)
Untuk mempersingkat waktu, kami teruskan acara ini.
Pembahasan:
Kalimat
itu tidak logis (tidak masuk akal). Adapun kalimat yang logis sebagai berikut.
1a) Kepada Bapak Camat kami persilakan.
2a) Untuk menghemat waktu, kami teruskan acara ini.
7. Kevariasian
Seorang penulis harus berusaha menghindarkan pembaca
dari keletihan yang pada akhirnya akan menimbulkan kebosanan. Penulis harus
berusaha agar pembaca menjadi pekerjaan yang menyenangkan. Sebuah bacaan atau
tulisan yang baik merupakan suatu komposisi yang dapat memikat dan mengikat
pembacanya untuk terus membaca sampai selesai. Agar dapat membuat pembaca
terpikat tidaklah dapat dilakukan begitu saja. Ada cara yang dapat dilakukan
oleh penulis untuk memikat hati pembaca, yaitu variasi.
Variasi adalah penganekaragaman bentuk-bentuk bahasa
agar terpelihara minat dan perhatiannya kepada bacaan (Keraf, 2004:49). Dalam
hal ini, variasi bertentangan dengan repetisi. Variasi dapat dicapai dengan menggunakan bentuk inversi, bentuk pasif
persona, variasi aktif-pasif, dan variasi panjang pendek. Macam-macam
variasi yang menunjang keefektifan kalimat sebagai berikut.
a.
Variasi Sinonimi Kata
Variasi berupa sinonimi kata atau
penjelasan-penjelasan yang berbentuk kelompok kata pada hakikatnya tidak merubah
isi dari pesan yang akan disampaikan.
Contoh:
Dari renungan itu penyair menemukan suatu makna,
suatu realitas baru, suatu kebenaran yang menjiwai seluruh puisi
(Keraf, 2004:50).
b.
Variasi Panjang Pendek Kalimat
Variasi dalam panjang pendeknya struktur kalimat
mencerminkan kejelasan pikiran pengarang. Pilihan yang tepat dari struktur
panjangnya sebuah kalimat dapat memberi tekanan pada bagian-bagian yang
diinginkan. Variasi panjang pendek kalimat ini dapat langsung dilihat contohnya
dalam suatu paragraf. Paragraf yang variatif dalam mempergunakan panjang
pendeknya kalimat adalah paragraf yang tidak menjemukan apabila dibaca.
Contoh:
Korupsi merupakan salah satu problem bangsa
Indonesia. Hal tersebut tidak hanya dilakukan oleh para pejabat negara.
Masyarakat lapisan bawah pun ikut melakukan korupsi. Mereka melakukannya karena
pemimpin tidak dapat memberikan contoh yang baik. Akibatnya, korupsi menjadi
penyakit yang terus menular di Indonesia dan sulit untuk disembuhkan.
Pembahasan:
Pada kalimat pertama terdiri dari tujuh kata. Kalimat ke-2 terdiri dari sembilan kata. Kalimat ke-3 terdiri dari
tujuh kata. Kalimat ke-4 terdiri dari
sepuluh kata. Kalimat ke-5 terdiri
dari dua belas kata.
c.
Variasi Penggunaan Bentuk
me- dan di-
Pemakaian bentuk prefik yang sama dalam beberapa
kalimat dapat menimbulkan kelesuan. Untuk itu, perlu dicari variasi pemakaian
prefiks me- dan di-.
Contoh:
Banjir adalah peristiwa yang sering menimpa Jakarta. Setiap musim hujan,
ruas jalan protokol dan pemukiman warga senantiasa digenangi air. Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah untuk mengatasi
banjir. Salah satunya dengan mengeruk
sungai-sungai supaya tidak terjadi pendangkalan. Akan tetapi, sampai saat ini
belum ada tanda-tanda kota ini bebas dari banjir.
d.
Variasi dengan Mengubah
Posisi dalam Kalimat
Variasi dengan mengubah posisi dalam kalimat
sebenarnya mempunyai sangkut paut dengan penekanan
dalam kalimat.
DAFTAR PUSTAKA
Alkadiah, Sabakti, dkk. 1991. Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa
Indonesia. Jakarta: Erlangga.
Keraf, Gorys. 2004. Komposisi. Ende: Nusa Indah
Pusat
Bahasa.2008. Buku Praktis Bahasa
Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional