Minggu, 27 Desember 2015

Naskah Drama


Hening di Ujung Senja
           

     Di sebuah rumah mewah, suara kucing, suasana sore yang sejuk dan menebak-nebak. Lampion dan tanaman menjadi pelengkap memperindah mata. Salah satu penghuninya yaitu aku yang sudah berumur melebihi dari dewasa. Aku sedang membersihakan beberapa pernak-pernik di ruang tamu. Tiba-tiba ada  dua orang yang muncul di muka pintu, ketika aku akan membuang pernak-pernik yang tak terpakai. Aku mempersilahkannya masuk dan duduk. Tiba-tiba mereka menceritakan langsung sesuatu kepada aku.
Tunggul: (Masuk ke dalam rumah dengan perasaan senang, semangat dan penuh harap) Kita  teman bermain waktu kecil. Di bawah pohon bambu. Tidak jauh dari tepi  Danau Toba.
Aku: (Ragu-ragu, dengan mengkerutkan dahi). 
            Masih di suasana yang sejuk begitu pula menebak-nebak. Di ruang tamu, mereka saling memandang, saling memberikan senyuman. Laki-laki itu mengingnginkan aku ingat, dan aku berusaha mengingatnya. Waktu mengenang pada mereka berdua  tentang kebersamaan yaitu semenjak enam puluh tahun yang lalu, ketika mereka masih kecil. Tunggul : (Meyakinkan Aku dengan menggerak-gerakan tangan seolah-olah menjadi pencerita yang dipercayai) Ketika sekolah SD kau pernah pulang ke kampung dan kita bersama-sama satu kelas pula.
Aku: (Aku tersenyum sambil mengangguk-angguk dan membuat  minuman  ke belakang).
                Ruang tamu luas itu terdapat sofa dan meja untuk menaruh minuman yang disuguhkan aku terhadap ke dua tamu itu. Karena belum tahu juga, maka laki-laki itu sedikit kecewa.
Aku: (Mempersilahkan minuman kepada mereka) Silahkan. 
Tanggul&anak bungsunya : (Mengulurkan tangan untuk mengambil minuman. Setelah itu Tunggul meletakan minuman dan Tunggul mengucapkan sesuatu) Wajahmu masih   seperti yang dulu. Tidakkah engkau peduli kampung halamanmu?
Aku     : (Menggaruk-garuk kepala, merasa risih).
            Sejuk masih menemani mereka mengobrol, ditambah udara dari AC membuat obrolan mereka semakin jauh. Sekelilingnya ada korden biru bunga-bunga ditambah vas bunga yang indah pas seperti ada kedamaian di ruangan itu. Awal yang menegangkan kemudian dicairkan oleh aku yang mengingat waktu kecil ingin membangun kembali rumah di atas tanah adat yang tidak pernah dijual.                   
Aku  : ( Menyilangkan kaki dan ceria) Rumah kita dahulu berhadap-hadapan, ya?

Tunggul:  (Mengangguk dan rasa kecewanya hilang).
Aku: (Mengangkat tangan dan memainkan jarinya seperti mendapat  ide atau jawaban yang sangat susah) Kalau begitu, kau si Tunggul?
Tunggul: (Penuh semangat dengan mata yang bersinar-sinar yaitu terharu) Iya, benar sekali.
       Dingin semakin terasa oleh mereka. Mereka berdua saling memandang dan memberikan senyuman. Mengingat-ingat masa silam yang pernah bersama. Si Tunggul nampak begitu senang teman lamanya sudah mengingatnya. Bibirnya tak mau diam, Tunggul ingin banyak bercerita.

Tunggul: (Memegang tangan Aku, dan mengatakan sesuatu dengan penuh keyakinan) Jangan biarkan orang lain menduduki tanahmu. Suatu saat nanti, keturunanmu akan bertanya-tanya tentang negeri leluhur mereka. Kita sudah sama tua. Mungkin tidak lama lagi kita akan berlalu. Kalau  kau perlu bantuan, aku akan menolongmu.
Aku: (Menatap Tunggul penuh rasa terharu dan bahagia) Akan kupikirkan. Nanti kubicarakan dengan adik dan kakak.

Tunggul: (Menganggukan kepala, dan berpamitan pulang) Saya dan anak saya pulang dulu. kapan-kapan, aku kemari lagi.
Aku: (Tersenyum mendengar Tunggul akan kemari lagi, dan mengantarkanya ke depan teras atas kepulangan mereka). Hati-hati.


Tunggul: (Mengangguk)

            Perbincangan penuh makna itu berlalu ditelan waktu. Seorang teman menjadi benak dipemikiranku, karena masih saling peduli dan pernah berjumpa lalu. Kenangan yang dulu pernah dijalani bersama akan menjadi cerita dari sebuah kehidupan. Akan diceritakan kepada anak dan cucu nanti. Petang telah menyambut Aku untuk memulai memperbincangkan mengenai rumah adat kepada kaka-adikku. Namun, kesibukan dengan urusan sendiri-sendiri itulah membuat kami tak sehangat seperti keluarga karena kesibukan masing-masing. Aku telah termenung, memutuskan sesutu hal yang pernah tertunda sebelumnya. Sebuah kampung halaman untuk melangkahkan kaki di sana, melihat dari sekian lamanya tak terlihat jelas oleh mata. Di sebuah ruangan sempit dua kali dua meter Aku berjumpa sosok teman yang menjadi cerita hidupku.



Aku: (Mengeluarkan setetes air mata, kemudian mengusapnya)
Tunggul: (Menggunakan slang oksigen dihidungnya, dengan matanya yang berkaca-kaca sambil mulutnya berkata pelan) Kudengar kau datang. Beginilah keadaanku. Sudah berbulan-bulan.

                Kondisi Tunggul sangat lemah, membuat Aku tak tega membicirakan mengenai tanah itu. Aku berfikir sejenak dan memutuskan untuk diserahkan pada keluarga dekat.  Waktu lagi yang menjadi kabar pait bagiku. Waktu itu telah jelas ditelinga ketika seorang kerabat dekat ketika berjumpa di Jakarta. Kabar duka membuat aku berdiri kaku, hingga tak tertahan meneteslah air mata. Teman karib waktu kecil kini telah tiada. Tunggul meninggal di usia yang ke-67.

Aku: (Dari berdiri kemudian duduk, dan meneteskan air mata sambil memegang tangan kursi) Oh, Tuhan. Kami lahir dalam tahun yang sama. Sebelum segala sesuatu rencana terwujud, usia telah ditelan waktu! Giliranku
             Ada sisi ruang kebahagiaan mengisi ruang kesediahan semenjak Tunggul meninggal. Sisi ruang itu terhempas oleh waktu lagi, ketika selang kebahagiaan terganti kabar duka.

Aku: (Duduk sambil merenungi setiap kejadian yang didengar kabar duka). Rendi  juga teman Aku sama seperti Tunggul. Mimpiku selalu dihampiri oleh sosok Rendi yang mengadu nasib dengan   mengerjakan istrinya ke luar negeri yaitu  Amerika untuk bekerja, sebelumnya juga ia menyusul kesana. Bagimana kabarnya?

Lewat Bali, Hawaii, Rendi sampai ke California. Setahun berada di sana, nasib kurang beruntung menimpa Rendi ketika istrinya meninggal sakit kanker payudara. Sepi merundung hidupnya, di tengah keramaian kota dan keheningan pagi dan senja, membuatnya resah.
 Aku: (Menangis mendengar kabar temanya kehilangan istri) Aku akan menemui  Rendi, sebagai tanda bela sungkawa.

              Dari kesunyian hati itu, Rendi cuti ke tanah air, untuk mencari teman hidup pada usia senja. Tetapi, dalam kesunyian di tanah air, ia mengembara seorang diri, dengan bus dan kereta api.

Aku: (Mengangkat telephone dan merasa begitu kaget. Kemudian meneteskan  air mata, Apa! Rendi tekulai di ruang hajat? Sakit asma? Jenazah dibawa ke rumah anaknya? (Telephonnya terjatuh ke lantai) Astaga, tak kusangka kini ia sudah tak  bernyawa. Barangkali hidup tidak mengenal kompromi. Kerja apa pun harus dilakukan dengan patuh. Tetapi usia yang di atas enam puluhan itu cukup melelahkan untuk bertahan hidup. Tiada kawan  untuk membantu. Semua bertahan hidup harus berkejaran dengan waktu. (Mengusap air mata)
            Aku nampak begitu sedih dengan kabar yang terjadi beberapa waktu dekat-dekat ini. Mungkin saja karena faktor  umur yang menjadi faktor utama.  Dari agen koran subuh, sampai rumah jompo dari siang sampai senja, lalu pulang ke apartemen, merebahkan diri seorang diri, sampai waktu mengantar subuh dan mengulangi ritual siklus kehidupan. Beberapa waktu kemudian, aku mendapat SMS. Aku berhenti di pinggir jalan ramai dan mencoba membaca berita yang masuk.



Aku: (Mengambil telephone dari sakunya, kemudian mengangkat panggilan  masuk) Apa! Lusiana meninggal dunia? (Matanya berkaca-kaca, air matanya hampir menetes dan mengalir ke pipi).
          Petang mengiringi lelah aku memuncak dengan kabar duka lagi. Waktu lah yang lagi-lagi membuatku termenung, meratapi, dan membuat bibi ini kaku. Pohon-pohon menjadi melihatku begitu tau rasa dijiwaku.



Aku: (Duduk dideket pohon yaitu di kursi dengan badan yang lemas dan muka yang letih) kawan-kawanku telah pergi. Tunggul tutup usia usia 67. Dan Lusiana ke-61. Begitpun dengan Rendi tak beda jauh usianya. Memang benar waktu adalah rahasia. Entah rahasia yang mengharukan maupun menyedihkan. (Meninggalkan pohon dan kursi yang didudukinya untuk pulang).

            Gelap menjadikan burung gagak tak terlihat di atas pohon rambutan. Hanya terdengar suaranya yang menjadi keyakinan sebagian orang bahwa akan ada kabar duka. Sosok Aku begitu memaknai semua ini. Lusiana yang merupakan temanya ialah seorang seorang sekretaris eksekutif yang hidup mati demi kariernya. Ia lupa kapan ia pernah disentuh rasa cinta, sampai cinta itu pun ditampiknya. Menjelang usia renta, ia menyaksikan ayah dan ibunya satu demi satu meninggalkan hidup yang fana. Juga abangnya, pergi mendadak entah menderita penyakit apa. Karier tidak meninggalkan bekas. Tidak ada ahli waris. Kawan-kawan meratapinya, dan melepasnya dalam kesunyian hati. Hening di atas nisannya. Burung pun enggan hinggap dekat pohon yang menaungi makamnya.
         Sebuah kesibukan terkadang melupakan seseorang untuk waktu yang berharga sebelum menyesali yang menimpa kelak. Begitupun dengan Aku yang bingung menggunakan waktu cuti untuk apa. Akhirnya setelah beberapa proses aku dapat belibur dengan keluarga.


Aku: (Duduk ditepi laut Hindia, menyasikan ombak memukul-memukul pantai, tiba-tiba Handphone istrinya bunyi, tanda ada satu pesan, kemudian akku membacanya) Tan, Ibu Maria baru saja meninggal dunia. Kasihan dia. Di dalam Kitab Sucinya  banyak mata uang asing. (Menatap langit) Inilalilahi wainalilahi rojiun. Ibu Maria telah mnyusul suaminya yang ke-72. (Masih menatap langit sambil menyangga dagu).
       Sebelum senja turun ke tepi laut, matahari memerah dan bundar, cahaya keindahan Tuhan, sangat mengesankan ratusan orang dari berbagai bangsa terpaku di atas batu-batu. Begitupun dengan sosok Aku.


Aku: (Mengeluarkan handphone dari sakunya, kemudian mengangkat)
Kaka sulung: Dik, usia ku telah 78, walaupun aku tahu sakitnya tidak kunjung sembuh. Tetaplah tabah dik. Kamu dan anak-anakmu, semua anak cucuku dan buyutku, supaya mereka tetap sehat.

Aku: (Matanya berkaca-kaca, antara senang dan sedih) Gelap lagi menjadi background sosok Aku, karena itu merupakan percakapan melalui telephone dengan kaka sulungnya yang terakhir.


Aku: (Menangis dan meratapi kepergian orang-orang yang selama ini berharga baginya). Oiya usiaku hampir 70 meski kurang beberapa bulan. Jejak mana yang sudah kutoreh dalam hidup ini? Dan jejak apakah yang bermakna sebelum tiba giliranku? (Terpekur, mengeluarkan banyak air mata dan menyiasati semua kejadian ini). Aku akan mempersiapkan diri, agar pantas menghadap-Nya.
           Masih sejuk, sangat nyaman meresapi setiap kejadian. Waktu yang akan membuka rahasia-rahasia yang tidak diketahui manusia. Adakalanya sehat sangat baik mengingat sebuah lubang. Lubang tempat akhir dari kehidupan di dunia. Merenungi, berbagi keluh kesah, mencari pencerahan hidup kemudian memperbaikinya itulah salah satu tugas manusia. Kelak, waktu lagi yang  akan memberikan kabar kepada saudara, teman, bahwa raga dan jiwa ini telah tiada.  


Naskah Drama di adopsi dari cerpen Hening di Ujung Senja karya wilson wadeak.